MAGELANG, 22 Agustus 2026 — Novela Wajah-Wajah dalam Kaset Pita, buku kedua dari Papperpop, diperkenalkan kepada publik melalui bincang buku dalam rangkaian Pekan Buku Magelang Edisi #12 yang diselenggarakan Melek Huruf di Borobudur. Acara berlangsung sedari pukul 13.00 hingga 15.30, menghadirkan penulis Gin Teguh dan Isnain Bahar sebagai ilustrator.
Diskusi dipandu Siti Azizah Namirah, seorang pekerja NGO yang banyak berkecimpung dalam isu kesetaraan hidup anak dan masyarakat. Latar belakang moderator memberi warna tersendiri. Alih-alih membedah buku secara kronologis, ia mengangkat sejumlah bagian yang menurutnya menarik untuk diperbincangkan lebih jauh lagi seperti isu keluarga, relasi pasangan, dan hak perempuan atas tubuhnya. Pertanyaan kemudian baru berkembang dari proses penulisan, pembentukan karakter, sampai relasi antara teks dan ilustrasi.
Gin bercerita bahwa Wajah-Wajah dalam Kaset Pita dikembangkan dari cerita pendek yang ia tulis pada 2016. Cerita tersebut kemudian dibuka kembali karena masih menyisakan sejumlah persoalan yang menggelisahkan dan ingin ia gali lebih panjang. Gagasan cerita sendiri berangkat dari pengalaman personal Gin yang kerap kesulitan mengingat orang-orang yang pernah ditemuinya.
Dalam beberapa situasi, Gin masih mengingat wajah seseorang, tetapi tidak ingat namanya. Pengalaman itu berkembang menjadi dasar bagi cerita tentang Nima dan Dio, pasangan muda yang hidup dengan persoalan ingatan, kehamilan, dan ketegangan dalam rumah tangga. Karakter Nima sebenarnya terinspirasi dari sang ibu yang memiliki kisah luka yang membekas di ingatannya. Sang ibu pernah kehilangan anak yang baru berusia satu tahun. Lalu bertahun kemudian, saat mengandung Gin, ibunya sempat berpikir untuk mengakhiri kehamilan setelah mengalami pendarahan berulang kali.
Sementara itu, Isnain menceritakan proses keterlibatannya sebagai ilustrator. Ajakan kolaborasi sudah diterimanya sejak 2024. Pengerjaan ilustrasi mulai berjalan pada 2025 setelah ia menerima materi cerita dari Gin dalam bentuk bab-bab episodik. Dalam proses tersebut, Isnain menemukan kedekatan personal dengan beberapa persoalan yang muncul dalam buku. Ia mengungkapkan pengalaman rumah tangganya. Bersama sang istri, mereka adalah pejuang dua garis biru. Hal tersebut baru diketahui Gin saat bincang buku berlangsung.
Pengakuan tersebut sempat membawa suasana diskusi menjadi haru biru. Selama proses kolaborasi, hal itu tidak pernah diutarakan secara terbuka. Kedekatan pengalaman tersebut kemudian memberi konteks baru terhadap ilustrasi yang dikerjakan Isnain dan menyelesaikannya hanya dalam waktu satu hari saja.
Perbincangan lalu bergulir pada dinamika rumah tangga muda. Azizah menyoroti cara kedua tokoh dalam novela menghadapi kekurangan dan ketakutan masing-masing. Isnain menambahkan bahwa lima tahun pertama pernikahan sering menjadi masa yang penuh ujian karena pasangan masih terus belajar memahami satu sama lain.
Tokoh Dio juga menjadi bahan perbincangan cukup panjang. Terlebih sebagai POV. Moderator, narasumber, dan beberapa peserta menyoroti kecenderungannya untuk merasa paling tahu terhadap apa yang dibutuhkan pasangannya. Dari sana, diskusi berkembang ke persoalan ego dalam hubungan, hak perempuan atas keputusan terhadap tubuhnya sendiri, dan kecenderungan laki-laki mengambil posisi sebagai pihak yang merasa dapat mengendalikan keadaan.
Meski banyak membicarakan isu yang cukup personal, suasana acara tetap cair. Peserta yang hadir ikut terlibat melalui sesi tanya jawab mengenai proses penulisan, pengerjaan ilustrasi, kesulitan selama produksi buku, dan relasi antara pengalaman pribadi dengan karya fiksi.
Saat bincang buku berlangsung, Wajah-Wajah dalam Kaset Pita masih berada dalam proses produksi dan masa prapesan. Bincang buku di Pekan Buku Magelang menjadi pembuka perjalanan Wajah-Wajah dalam Kaset Pita bertemu dengan pembacanya. Setelah diperkenalkan di Borobudur, Papperpop menyiapkan rangkaian pertemuan berikutnya sebagai bagian dari tur buku novela tersebut. [ ]